Menyanyikan Lagu Tempat

  • Whatsapp

KABARPANDEGLANG.COM – Setiap suku bangsa yang ada di Indonesia mempunyai lagu yang berbahasa ibu adalah memakai bahasa daerah. Menyanyikan lagu daerah biasanya diiringi dengan alat musik tradisional. Indonesia memiliki lagu dan alat musik tradisional yang mendapat imbas dari aneka macam negara mirip India, China, Portugis, serta negara-negara lainnya.

Contoh lagu tempat Indonesia antara lain Bungong Jeumpa dari Aceh, Tokecang dari Jawa Barat, Cing Cangkeling dari Jawa Barat, Rambadia dari Tapanuli, Soleram dari Riau, Kaparak Tingga dari Minang, Marencong-rencong dari Bugis, dan Apuse dari Papua.

Bacaan Lainnya

Ciri-ciri Lagu Daerah

Setiap tempat mempunyai lagu-lagu yang dinyanyikan pada dikala tertentu dengan bahasa kawasan. Lagu-lagu ini merupakan kekayaan budaya bangsa yang dapat dijadikan sebagai salah satu sarana membentuk karakter dan pendidikan sikap pada anak dan cukup umur.

Nasehat yang disampaikan melalui lagu tentu lebih bermakna dan dapat diterima. Lagu tempat biasanya merujuk kepada sebuah lagu yang memiliki irama khusus bagi sebuah tempat. Beberapa ciri khas lagu daerah, antara lain sebagai berikut:

  • Teks lagu daerah memakai bahasa dan dialek setempat. Misalkan lagu daerah Jawa Timur menggunakan bahasa Jawa dengan dialek Suroboyo-an.
  • Lagu tempat diwariskan secara turun-temurun dengan tradisi mulut. Walaupun ada lagu daerah yang tertulis, hal itu berfungsi hanya untuk kepentingan dokumentasi saja.
  • Lagu tempat pada umumnya tidak diketahui penulis atau penciptanya (anonim). Karena sifat lagu kawasan adalah tidak menonjolkan verbal eksklusif atau perorangan, tetapi pesan yang disampaikan yaitu bersifat umum.
  • Lagu daerah pada umumnya mempunyai susunan melodi dan syair yang sederhana. Beberapa lagu daerah hanya mempunyai 2, 4 atau 8 bait saja. Ada juga lagu tempat yang menggunakan syair berbeda pada setiap perulangannya. Lagu tempat yang sederhana biasanya mampu dinyanyikan dengan baik oleh masyarakat dari etnis lagu daerah tersebut berasal.
  • Terkadang terdapat beberapa versi dari sebuah lagu di tempat berbeda dalam suatu etnis. Hal ini terjadi alasannya cara penyebaran lagu kawasan dilakukan dari lisan ke verbal. Dalam membawakan lagu tempat, masyarakat biasanya menyanyikan dengan diiringi oleh musik kawasan setempat. Misalkan lagu daerah Praon dari Jawa Tengah dinyanyikan dengan diiringi musik gamelan.

Tujuan menyanyikan lagu daerah ialah untuk lebih mengenal lagu-lagu tempat di indonesia dan menyebabkan rasa cinta pada lagu kawasan indonesia juga indonesia dapat di kenal atas budayanya termasuk seni musiknya .

Lagu-lagu tempat merupakan kekayaan warisan budaya yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Pelestarian dan pengembangan warisan budaya ini mampu dilakukan dengan tetap menyanyikan sesuai dengan kebutuhan serta situasi dan kondisi dimana lagu tersebut harus dinyanyikan.

Setiap suku bangsa yang ada di Indonesia memiliki lagu yang berbahasa ibu yaitu menggunaka Menyanyikan Lagu Daerah

Menyanyi pada masyarakat sering dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Ada lagu-lagu yang dinyanyikan pada ketika upacara tertentu mirip akad nikah, kelahiran, maut atau permainan. Ada juga lagu-lagu yang berisi nasehat atau sanjungan terhadap mahkluk sesama. Ibu-ibu di daerah masih sering menyanyikan lagu nasehat dikala menidurkan anaknya.

Beberapa pola lagu daerah dan kegunaannya ialah sebagai berikut.

  • Gending Kebo Giro ialah gending yang digunakan pada acara temu panggih dalam prosesi akad nikah budbahasa Jawa.
  • Nyanyian Katoneng-Katoneng dalam Upacara Kematian adat Karo. Nyanyian yang mengandung doa dan nasehat yang disampaikan oleh keluarga yang ditinggalkan maupun sebuah korelasi.
  • Dodoy merupakan salah satu bab dalam pengasuhan anak pada masyarakat Melayu Siak. Dodoy termasuk jenis nyanyian rakyat alasannya dilantunkan secara verbal dan penyebarannyapun diwariskan secara ekspresi.

Demikian juga belum dewasa dan cukup umur masih sering menyanyi sambil melakukan permainan. Ada juga lagu-lagu tempat yang bersifat dolanan. Lagu-lagu ini dinyanyikan oleh anak-anak dan dewasa. Mereka bernyanyi sambil melaksanakan permainan tradisional.

Di kawasan Jawa Tengah dikenal dengan nama tembang dolanan, tembang dolanan anak berbahasa Jawa memiliki nilai-nilai luhur budaya nasional. Beberapa pola tembang dolanan dan nilai yang terkandung di dalamnya antara lain sebagai berikut.

Nilai Religius atau Keagamaan

  • Sluku-sluku bathok, dalam syair lagu tersebut bermakna manusia hendaklah membersihkan batinnya dan senantiasa berzikir mengingat Allah dengan (ela-elo) menggelengkan kapala mengucapkan lafal laa illa ha illallah disaat susah maupun bahagia.
  • Ilir-ilir, maksud yang terkandung dalam tembang tersebut yaitu kita sebagai umat insan diminta bangun dari keterpurukan untuk lebih mempertebal keyakinan dan berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan seperti bahagianya pengantin gres.
  • Padhang Wulan, maksud dari tembang dolanan tersebut ialah kita hendaknya bersyukur kepada yang Maha Kuasa untuk menikmati keindahan alam.

Nilai Budi Pekerti

  • Jaranan, makna budi pekerti yang tersirat dalam tembang tersebut, antara lain: kebersamaan, dan menghormati yang lebih tinggi kedudukannya.
  • Menthok-menthok, mengandung makna instropeksi diri, sebagai umat insan tidak boleh menyombongkan diri, karena sesungguhnya semua yang ada di dunia ini diciptakan Allah dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
  • Gundul-gundul Pacul , mengajarkan kepada kita bahwa kita bukanlah orang yang paling benar, paling bisa, dan paling bakir, sehingga ia bersikap gembelelengan, sombong, dan tak tahu diri.
  • Dondhong Opo Salak, Ibarat buah kedondong yang bab luarnya halus tetapi bab dalamnya bernafsu dan tajam, dan sebaliknya buah salak yang bab luarnya kasar ternyata bagian dalamnya halus. Lebih baik kita berbuat yang baik secara lahir maupun batin seperti buah salak, daripada kita berbuat yang dari luar kelihatan cantik tetapi di dalamnya bernafsu dan tajam seperti buah kedondong.

Teknik dan Gaya Menyanyi Lagu Daerah

Lagu-lagu daerah biasanya diiringi dengan seperangkat alat musik tempat yang sering disebut dengan karawitan. Istilah karawitan untuk menunjuk pada seperangkat alat musik tradisional secara lengkap secara orkestra.

Kebanyakan karya-karya seni musik (karawitan) yang dimainkan dengan aneka macam ansambel gamelan ataupun repertoar lain biasanya bersifat tradisional dan anonimus. Karenanya, usia sebuah komposisi karawitan sangat sulit untuk ditentukan.

Seringkali seorang pemain/seniman andal Karawitan menambah atau mengurangi komposisi karawitan yang dimainkan, begitu juga beberapa gaya. Pada musik karawitan Betawi gaya dalam gambang kromong disebut liaw yang tersendiri sangat lazim pada abad tertentu dan wilayah yang tertentu.

Komposisi karawitan mampu berbagi perbedaan-perbedaan dari sebuah wilayah dengan wilayah lainnya sepanjang waktu. Inilah yang menjadikan munculnya gaya yang berbeda- beda. Gaya musikal yakni ciri khas atau karakteristik musikal yang dihasilkan dari beberapa kondisi:

  • Gaya lokal, ialah sifat-sifat lokal suatu kawasan yang diakui memiliki sifat-sifat estetis dan ekspresif berbeda dengan kawasan lainnya. Inilah yang belakangan ini, sehubungan dengan isu globalisasi, kemudian kita sebut sebagai entitas lokal genius.
  • Gaya individual, ialah tipologi karakteristik seorang tokoh pencipta Lagu-lagu yang membedakannya dengan pencipta lagu lainnya.
  • Gaya periodikal, ialah tipologi karakteristik zaman tertentu yang menghasilkan gaya musikal tertentu, misalnya. Gaya dalam bentuk musikal, ialah tipologi karakteristik yang dapat dibedakan dari aneka macam bentuk karya musikal yang ada, contohnya, pada musik Betawi dalam gambang kromong lagu sayur, dengan lagu phobin, atau dalam kroncong tugu antara kroncong orisinil, langgam dan stambul. Dalam karawitan Betawi Gaya atau musical style dikenal dengan istilah Liaw.

Pada repertoar (perbendaharaan bahasa (dialek, ragam) yang dimiliki oleh seseorang atau masyarakat) lagu-lagu tempat sering dibawakan oleh seorang penyanyi. Di Jawa disebut dengan Sinden, demikian juga di Sunda dan juga Bali. Di kawasan Sumatera Utara sering disebut dengan Perkolong-kolong.

Di Kalimantan ada yang disebut dengan Madihin ialah menyanyikan pantun-pantun dengan diiringi tabuhan gendang. Setiap kawasan mempunyai nama tersendiri bagi seorang penyanyi yang diiringi dengan orkestrasi musik tradisional.

Menyanyi Secara Unisono

Menyanyikan lagu-lagu kawasan ada yang dilakukan secara seorang diri tetapi ada juga yang dilakukan secara berkelompok. Madihin contohnya yang menyanyikan pantun seorang diri sekaligus sebagai pemusiknya. Sinden mampu dilakukan secara berkelompok tetapi dapat juga dilakukan seorang diri.

Mereka menyanyi dalam satu suara atau sering disebut dengan menyanyi secara unisono. Menyanyi secara unisono membutuhkan kerjasama antara anggota kelompok sebab jikalau berbeda sendiri suaranya akan terlihat tidak elok.

Menyanyi pada masyarakat sering dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Ada lagu-lagu yang dinyanyikan pada ketika upacara tertentu seperti ijab kabul, kelahiran, ajal atau permainan. Ada juga lagu-lagu yang berisi nasehat atau sanjungan terhadap mahkluk sesama. Ibu-ibu di kawasan masih sering menyanyikan lagu nasehat saat menidurkan anaknya. Demikian juga belum dewasa dan sampaumur masih sering menyanyi sambil melaksanakan permainan. Hal ini menunjukan bahwa menyanyi secara unisono maupun perseorang sering dilakukan oleh masyarakat.

Setiap tempat tentu memiliki lagu-lagu yang dinyanyikan pada ketika tertentu dengan bahasa daerah. Lagu-lagu ini merupakan kekayaan yang dapat dijadikan sebagai salah satu sarana membentuk karakter dan pendidikan sikap pada anak dan cukup umur. Nasehat yang disampaikan melalui lagu tentu lebih bermakna dan mampu diterima.

Terima kasih telah membaca artikel di website kabarpandeglang.com, semoga bisa memberikan informasi yang bermanfaat bagi kamu dan bisa dijadikan referensi. Artikel ini telah dimuat pada kategori pendididkan https://kabarpandeglang.com/topik/pendidikan/, Jangan lupa share ya jika artikelnya bermanfaat. Salam admin ganteng..!!

Pos terkait