Penyebab Perubahan Ekosistem

  • Whatsapp

KABARPANDEGLANG.COM – Ekosistem mengalami perubahan sepanjang waktu. Komponen-komponen di dalam ekosistem mampu mengalami peningkatan maupun penurunan jumlah populasi. Misalnya, pada saat trend hujan, sebuah kebun akan mendapatkan lebih banyak air daripada biasanya. Tanaman tumbuh dengan baik.

Tikus-tikus tanah juga akan menerima lebih banyak makanan daripada biasanya. Hal ini akan mengakibatkan peningkatan populasi tikus tanah pada kebun tersebut. Peningkatan jumlah tikus tanah akan menjadikan meningkatnya populasi ular tanah. Hal ini disebabkan ular tanah mendapatkan banyak makanan berupa tikus tanah pada trend itu.

Bacaan Lainnya

Pada isu terkini kemarau, air yang turun di kebun tersebut tentu berkurang. Tanaman tumbuh lebih lambat. Makanan yang dihasilkannya juga lebih sedikit. Keadaan ini akan menyebabkan menurunnya populasi tikus tanah yang memakan tumbuhan di kebun itu.

Akibatnya, populasi ular tanah pun akan berkurang, alasannya adalah berkurangnya sumber kuliner pada isu terkini itu. Ekosistem mengalami perubahan baik secara alami maupun alasannya aktivitas manusia. Perubahan ekspresi dominan, mirip dijelaskan di atas, merupakan salah satu teladan perubahan alami.

Selain isu terkini, yang termasuk faktor perubahan alami adalah musibah berupa gunung meletus, gempa, tanah longsor, kebakaran hutan, tsunami, angin ribut, dan banjir. Secara umum, penyebab terganggunya keseimbangan ekosistem atau lingkungan dibagi ke dalam dua kelompok besar yakni karena faktor alam dan faktor insan.

A. Faktor Alam

Faktor alamiah merupakan penyebab kerusakan ekosistem yang terjadi murni alasannya musabab alam. Misalnya saja gempa bumi, terjadinya kebakaran hutan akhir cuaca, bajir, longsor, tsunami dan masih banyak lagi lainnya. Peristiwa tersebut memicu terjadinya perubahan ekosistem misalnya saja dikala Gunung Merapi di wilahyah Jawa Tengah meletus, maka kerusakan ekosistem di sekitar Merapi tak bisa dihindarkan.

Mahluk hidup baik itu hewan dan flora bahkan insan bisa mati. Hal tersebut sama saja dengan kejadian semacam gempa dan banjir, akan berakibat pada terganggunya kestabilan ekosistem. Sebagai sebuat kesatuan, maka jika dalam sebuah ekosistem terdapat satu organisme yang mati maka akan besar lengan berkuasa pada keadaan organisme lainnya.

Ekosistem mengalami perubahan sepanjang waktu Penyebab Perubahan Ekosistem

B. Faktor Manusia

Manusia dapat menjadi faktor penyebab terjadinya perubahan ekosistem. Manusia melakukan banyak sekali aktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk memenuhi kebutuhannya tersebut maka insan melakukan sejumlah acara yang justru berperan dalam kerusakan lingkungan di sekitarnya.

Ada beberapa kegiatan manusia yang mengakibatkan terganggunya keseimbangan ekosistem. Antara lain:

  • Kegiatan penebangan dan pembakaran hutan. Dua acara ini bisa menimbulkan kerusakan yang sangat serius bagi ekosistem. Tak hanya menjadikan banjir juga longsor, berkurangnya pohon yang merupakan paru-paru dunia ini akan menciptakan iklim di bumi terganggu. Penebangan pepohonan akan menciptakan tanah tidak lagi terkunci secara benar sehingga mudah longsor dan udara tidak lagi mampu didaur ulang sehingga kadar oksigen semakin berkurang. Pembakaran hutan jauh lebih berbahaya lagi alasannya mampu membunuh semua makhluk hidup yang ada di dalam hutan tersebut dan mengakibatkan kelangkaan beberapa tanaman tertentu.
  • Perburuan hewan yang tak terkendali. Manusia membutuhkan binatang baik itu sebagai salah satu materi masakan maupun sebagai rekreasi. Manusia mengkonsumsi binatang, misalnya ikan, bukan hal yang merusak bila dilakukan dengan cara yang wajar. Namun, manakala insan menangkap ikan dengan bom peledak, racun atau kejut listrik, maka mampu dipastikan akan berakibat jelek pada keseimbangan lingkungan. Hewan sebagai rekreasi. Terkadang banyak insan yang menangkap binatang hanya untuk dipelihara dan dijual demi tujuan komersil mislanya materi garmen dan semcamnya. Hal ini sangat jelek dan berdampak pada kelangkaan hewan tertentu.
  • Kegiatan pemakaian pupuk yang berlebihan. Aktivitas pertanian manusia juga terkadang mampu mengganggu keseimbangan alam. Pupuk dipakai untuk memaksimalkan hasil pertanian. Ada dua jenis pupuk yang dipakai ialah pupuk alami dan pupuk buatan. Penggunaan pupuk alami tidak membahayakan organisme lainnya sementara itu penggunaan pupuk buatan, jikalau dipakai secara berlebihan akan berbahaya bagi organisme lainnya.
  • Kegiatan pembuangan sampah dan limbah. Ratusan milyar manusia di dunia ini, setiap melaksanakan aktivitas niscaya menghasilkan sampah juga limbah. Sebut saja limbah dari rumah tangga, transportasi, pertanian, hingga limbah industri. Apabila tidak diurai secara cermat makan limbah dan sampah ini akan mengganggu keseimbangan ekosistem dan mengancam nyawa organisme lainnya.
  • Kegiatan yang mencemari lingkungan. Pencemaran terhadap tanah, pencemaran terhadap udara, pencemaran terhadap bunyi, dan juga pencemaran terhadap air. Pencemaran tanah terjadi dengan cara membuat limbah yang tak bisa diurai hingga ribuan tahun lamanya, contohnya saja plastik. Pencemaran suara contohnya oleh bunyi bising yang merusak telinga organisme. Pemcemaran air contohnya dengan masuknya bahan padat maupun cair di dalam air yang membahayakan organisme di dalam air. Sedangkan pencemaran udara ialah masuknya berbagai polutan ke udara baik itu dari asap kendaraan, debu juga jelaga.

Dalam suatu ekosistem yang masih alami dan belum terganggu akan didapati adanya keseimbangan antara komponen-komponen penyusun ekosistem tersebut keadaan ini disebut homeostatis, ialah kemampuan ekosistem untuk dapat menahan banyak sekali perubahan alam dalam sistem secara menyeluruh.

Ekosistem yang dikatakan seimbang yaitu apabila semua komponen baik biotik maupun abiotik berada pada porsi yang seharusnya baik jumlah maupun peranannya dalam lingkungan. Dalam ekosistem terjadi kejadian makan memakan yang kita sebut dengan istilah rantai makanan. Idealnya dalam sebuah rantai masakan jumlah masing-masing anggotanya harus sesuai dengan aturan ekosistem.

Ketidakseimbangan ekosistem terjadi apabila semua komponen biotik maupun abiotik tidak berada pada porsi yang seharusnya baik jumlah maupun perananya dalam lingkungan. Sehingga dapat dikatakan tidak seimbang jikalau salah satu komponen pada ekosistem tersebut rusak. Misalnya populasi tikus di sawah sedikit alasannya terus diburu oleh para petani akan menyebabkan populasi ular menurun alasannya adalah kehabisan masakan berupa tikus.

Terima kasih telah membaca artikel di website kabarpandeglang.com, semoga bisa memberikan informasi yang bermanfaat bagi kamu dan bisa dijadikan referensi. Artikel ini telah dimuat pada kategori pendididkan https://kabarpandeglang.com/topik/pendidikan/, Jangan lupa share ya jika artikelnya bermanfaat. Salam admin ganteng..!!

Pos terkait