Teks Deskripsi Museum Fatahilah Yang Penuh Sejarah

  • Whatsapp

KABARPANDEGLANG.COM – Teks deskripsi adalah teks yang berisi balasan deskriptif dan personal terhadap objek. Tujuan teks deskripsi me nggambarkan objek dengan cara memerinci objek secara subjektif atau melukiskan kondisi objek dari sudut pandang penulis Teks deskripsi bertujuan menggambarkan/ melukiskan secara rinci dan penggambaran sekonkret mungkin suatu objek/ suasana/ perasaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, mengalami apa yang dideskripsikan.

Perhatikan langkah menyusun teks deskripsi berikut!

Bacaan Lainnya

Langkah 1

Tentukan subjek yang akan dideskripsikan dan buat judul Judul teks tanggapan deskriptif berisi objek yang akan dideskripsikan dengan jawaban personal penulis.

Langkah 2

Buatlah kerangka bagian-bagian yang akan dideskripsikan!

Teks deskripsi adalah teks yang berisi tanggapan deskriptif dan personal terhadap objek Teks Deskripsi Museum Fatahilah yang Penuh Sejarah

Langkah 3 Mencari Data

Carilah data dari subjek yang ditulis. Data dicari dengan cara mengamati subjek yang akan dideskripsikan! Gunakan tabel seperti contoh berikut!

Langkah 4

Tatalah kalimat-kalimat menjadi paragraf pembuka teks tanggapan deskriptif/ identifikasi, paragraf deskripsi bab 1, deskripsi bab 2, deskripsi bab 3, dan paragraf penutup!

Langkah 5

Perincilah objek/ suasana yang kau deskripsikan dengan memakai kata dan kalimat yang merangsang pancaindera. Pembaca yang tidak mengalami eksklusif seakan-akan melihat, mendengar, dan mencicipi apa yang kamu deskripsikan. Gunakan variasi kata secara menarik.

Museum Fatahilah yang Penuh Sejarah

Perjalanan sejarah bangsa ini masih dapat kita pelajari dan juga kita nikmati hingga dikala ini di Museum Fatahillah, yang berada di Kawasan Kota Tua, atau lebih tepatnya di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat. Disini anda mampu menelusuri berbagai macam peninggalan sejarah kota Jakarta semenjak zaman prasejarah, masa kejayaan dari pelabuhan Sunda Kelapa, abad penjajahan, hingga ke abad setelah kemerdekaan.

Sejarah Gedung

Gedung Museum yang berdiri ketika ini, pada awalnya merupakan sebuah Balai Kota (Stadhuis) yang diresmikan oleh Gubernur Jendral Abraham Van Riebeeck di tahun 1710. Pembangunan gedung ini sendiri sudah dimulai pada kurun Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen, di tahun 1620. Karena kondisi tanah Jakarta yang labil menciptakan gedung ini sempat anjlok, sehingga dilakukan beberapa kali perjuangan pemugaran hingga peresmiannya.

Gedung Museum Fatahillah sempat mengalami beberapa kali peralihan fungsi. Gedung ini pernah berfungsi sebagai Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat (1925 hingga 1942), kantor pengumpulan logistik Dai Nippon (1942 hingga 1945), markas Komando Militer Kota atau Kodim 0503 Jakarta Barat (1952 hingga 1968). Barulah pada tahun 1968, gedung ini secara resmi diserahkan kepada Pemerintah Daerah DKI Jakarta di 1968 dan diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta di tanggal 30 Maret 1974 oleh Gubernur DKI Jakarta, yaitu Ali Sadikin.

Arsitektur bangunannya bergaya Neoklasik dengan tiga lantai dengan cat kuning tanah, kusen pintu dan jendela dari kayu jati berwarna hijau renta. Bagian atap utama mempunyai penunjuk arah mata angin. Museum ini memiliki luas lebih dari 1.300 meter persegi. Bentuk bangunan tersebut menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang digunakan sebagai penjara.

Sejarah Museum

Pada tahun 1937, Yayasan Oud Batavia mengajukan planning untuk mendirikan sebuah museum mengenai sejarah Batavia. Yayasan tersebut membeli gudang di sebelah timur Kali Besar tepatnya di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 (kini Museum Wayang) dan membangunnya kembali sebagai Museum Oud Batavia. Museum Batavia Lama ini dibuka untuk umum pada tahun 1939.

Pada masa kemerdekaan museum ini bermetamorfosis Museum Djakarta Lama di bawah naungan LKI (Lembaga Kebudayaan Indonesia) dan selanjutnya pada tahun 1968 ‘’Museum Djakarta Lama’’ diserahkan kepada PEMDA DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta pada dikala itu, Ali Sadikin, kemudian meresmikan gedung ini menjadi Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974.

Museum Sejarah Jakarta sejak tahun 1999 bertekad mengakibatkan museum ini bisa menjadi daerah bagi semua orang baik bangsa Indonesia maupun asing, bawah umur, orang sampaumur untuk menambah pengetahuan dan pengalaman serta mampu dinikmati sebagai kawasan rekreasi. Untuk itu Museum Sejarah Jakarta berusaha menyediakan gosip mengenai perjalanan panjang sejarah kota Jakarta, sejak periode prasejarah hingga kurun kini dalam bentuk yang lebih rekreatif.

Koleksi Museum

Museum dengan nama populer “Museum Fatahillah” ini menyimpan sekitar 23.500 koleksi barang bersejarah. Koleksi tersebut berasal dari Museum Jakarta Lama (Oud Batavia Museum) yang pada sebelumnya terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 27, yang pada ketika ini ditempati oleh Museum Wayang.

Beberapa koleksi penting antara lain Meriam Si Jagur, Patung Dewa Hermes, Prasasti Ciaruteun peninggalan Tarumanagara, sel tahanan dari Untung Suropati (1670) serta Pangeran Diponegoro (1830). Ada juga lukisan Gubernur Jendral VOC Hindia Belanda dari 1602 sampai 1942, alat pertukangan zaman prasejarah dan koleksi persenjataan. Selain itu, ada koleksi mebel antik peninggalan kala ke-17 sampai kurun ke-19, sejumlah keramik, gerabah dan juga prasasti.

Ruang-ruang pekan raya yang ada di Museum Fatahillah adalah, Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, Ruang Jayakarta, dan Ruang MH Thamrin. Pembagian ruangan dan penataan koleksi yang ada sangat mempertimbangkan aspek artistik dengan impian bisa berfungsi seoptimal mungkin sebagai sumber berita bagi para masyarakat. Koleksi yang dipamerkan ke publik hanya sekitar 500 buah, sedangkan sisanya disimpan didalam ruang penyimpanan. Secara berkala, koleksi tersebut dirotasi sehingga mampu dilihat oleh masyarakat.

Aktivitas Museum

Sejak tahun 2001 hingga dengan 2002 Museum Sejarah Jakarta menyelenggarakan Program Kesenian Nusantara setiap ahad ke-II dan ke-IV untuk tahun 2003 Museum Sejarah Jakarta memfokuskan kegiatan ini pada kesenian yang bernuansa Betawi yang dikaitkan dengan acara wisata kampung tua setian minggu ke III setiap bulannya.

Selain itu, semenjak tahun 2001 Museum Sejarah Jakarta setiap tahunnya menyelenggarakan seminar mengenai keberadaan Museum Sejarah Jakarta baik berskala nasional maupun internasional. Seminar yang telah diselenggarakan antara lain yakni seminar tentang eksistensi museum ditinjau dari aneka macam aspek dan seminar internasional mengenai arsitektur gedung museum.

Melalui tata pamernya Museum Sejarah Jakarta berusaha menggambarkan “Jakarta Sebagai Pusat Pertemuan Budaya” dari berbagai kelompok suku baik dari dalam maupun dari luar Indonesia dan sejarah kota Jakarta seutuhnya. Museum Sejarah Jakarta juga selalu berusaha menyelenggarakan kegiatan yang rekreatif sehingga mampu merangsang pengunjung untuk tertarik kepada Jakarta dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya warisan budaya.

Terima kasih telah membaca artikel di website kabarpandeglang.com, semoga bisa memberikan informasi yang bermanfaat bagi kamu dan bisa dijadikan referensi. Artikel ini telah dimuat pada kategori pendididkan https://kabarpandeglang.com/topik/pendidikan/, Jangan lupa share ya jika artikelnya bermanfaat. Salam admin ganteng..!!

Pos terkait